MAKALAH
AKUNTANSI PERUBAHAN HARGA (INFLASI)

Disusun Oleh
:
ASTRI NOVITA
SARI (4EB28/ 21213456)
Dosen
Pengajar :
Budiasih SE., MM
Mata Kuliah :
Akuntansi
Internasional
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan ekonomi saat ini
telah timbul berbagai macam adanya inflasi dalam perubahan harga, Inflasi dapat
didefinisikan sangat sederhana sebagai kenaikan tingkat harga rata-rata untuk
barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Banyak dari kita sangat menyadari
fenomena ini. Inflasi merupakan fenomena dunia yang banyak terjadi di negara
berkembang, namun kecenderungan yang ada di negara maju mengadopsi “akuntansi
inflasi” untuk memperbaiki penyimpanan dari convensional historical cost
accounting yang memasukkan unsur perubahan harga dan inflasi pada pendapatan
dan asset. Perubahan harga menimbulkan masalah bagi akuntansi dalam hal
penilaian, unit pengukur, dan pemertahanan kapital. Masalah penilaian berkaitan
dengan dasar yang harus digunakan untuk mengukur nilai pos pada suatu saat. Masalah
unit pengukur berkaitan dengan perubahan daya beli akibat perubahan tingkat
harga umum. Masalah pemertahanan capital berkaitan dengan pengertian laba
sebagai selisih dua kapital yang harus ditentukan jenisnya; financial atau
fisis.
Akuntansi bagi perubahan harga secara
khusus berhubungan erat dengan manajer-manajer perusahaan multinasional karena
tingkat inflasi bervariasi secara substansial antara suatu negara dengan negara
lainnya, sehingga meningkatkan kemungkinan dipengaruhinya pelaporan hasil-hasil
operasi oleh efek-efek distorstif dari inflasi. Pengaruh inflasi terhadap
posisi keuangan dan kinerja perusahaan dapat mengakibatkan tidak efisiennya
keputusan operasional yang dibuat oleh manajer yang tidak mengerti pengaruh
dari inflasi itu sendiri. Dalam kaitannya dengan posisi keuangan, aktiva
keuangan seperti nilai kas akan berkurang nilainya selama inflasi karena
menurunnya daya beli. Konsekuensi-konsekuensi internasional dari inflasi global
sangat mengganggu. Karena inflasi telah mengikis standar kehidupan sekarang ini
yang memiliki penghasilan dan memperumit pengambilan keputusan bisnis secar signifikan, terjadinya
kegelisahan politik sosial yang luas, tekanan-tekanan ekonomis tidak di ragukan
lagi tidak menyebabkan pergolakan-pergolakan politik yang telah memberi warna
pada politik global dalam kemajuan saat ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud
dengan akuntansi perubahan harga?
2.
Bagaimana cara
penyesuaian inflasi bagi perubahan harga?
3.
Apa saja penyebab
dari inflasi?
4.
Apa dampak yang
ditimbulkan dari inflasi?
5.
Bagaimana cara
mengatasi inflasi?
6.
Bagaimana sudut
pandang internasional terhadap akuntansi inflasi?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perubahan Harga
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah
suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu)
berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di
pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat
adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga
merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah
proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya,
tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi
adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika
proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang
paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Overstatement menurut bahasa adalah
pernyataan yang berlebih-lebihan. Overstatement di bidang ekonomi contohnya dalam penyesuaian inflasi terhadap
harga pokok penjualan dan beban depresiasi dirancang untuk menentukan laba,
seperti dilaporkan agar tidak terjadi overstatement laba. Meskipun begitu
akibat hubungan negatif antara inflasi lokal dan nilai valuta, perubahan kurs
antara laporan keuangan saru dengan laporan keuangan yang lain yang berurutan ,
yang umumnya diakibatkan oleh inflasi (paling tidak selama satu periode
tertentu), akan menyebabkan perusahaan merefleksikan paling tidak sebagian
dampak inflasi (yaitu, penyesuaian-penyesuaian ganda, kerugian translasi yang
telah tercermin dalam laba seperti dilaporkan sebuah perusahaan harus
diperhitungkan sebagai bagian dari penyesuaian inflasi.
o Perubahan harga umum
Suatu
perubahan harga umum terjadi apabila secara rata-rata harga seluruh barang dan
jasa dalam suatu perekonomian mengalami perubahan. Unit-unit moneter memperoleh
keuntungan atau mengalami kerugian daya beli. Kenaikan harga secara keseluruhan
disebut inflasi (inflation), sedangkan penurunan harga disebut deflasi
(deflation).
o Perubahan harga spesifik
Perubahan harga spesifik mengacu pada
perubahan dalam harga barang atau jasa tertentu yang disebabkan oleh perubahan
dalam permintaan dan penawaran
2.2 Pengertian Akuntansi Perubahan
Harga
kuntansi perubahan harga (accounting
for price changes) mengacu pada perlakuan akuntansi terhadap perubahan atau selisih harga dan masalah akuntansi
dalam kondisi yang didalamnya harga-harga berubah. Dalam merancang akuntansi
yang akan diterapkan dalam suatu lingkungan ekonomik tertentu, perlu ditentukan
struktur atau rerangka akuntansi pokok yang menghasilkan statemen keuangan
dasar.
2.3 Penggolongan Inflasi
Berdasarkan asal-usulnya, inflasi
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan
inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri
misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai
dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan
makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi
yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi
akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif
impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan
besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi
hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut
inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada
semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka
(Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga
setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat
menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi
yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga
dapat dibedakan :
1.
Inflasi ringan
(kurang dari 10% / tahun)
2.
Inflasi sedang
(antara 10% sampai 30% / tahun)
3.
Inflasi berat
(antara 30% sampai 100% / tahun)
4.
Hiperinflasi
(lebih dari 100% / tahun)
2.4 Penyebab terjadinya Inflasi
Inflasi dapat disebabkan oleh dua
hal, yaitu tarikan permintaan dan desakan produksi dan/atau distribusi. Inflasi
tarikan permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan
dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi
permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Inflasi desakan
biaya terjadi akibat adanya kelangkaan produksi atau juga termasuk adanya kelangkaan
distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat
secara signifikan
2.5 Penyesuaian Inflasi
Serangkaian metode statistik yang
mengukur perubahan-perubahan harga, baik perubahan umum maupun perubahan
spesifik, umumnya tidak bergerak dalampola yang parallel. Selain itu,
masing-masing jenis perubahan harga efeknya berbeda-beda terhadap ukuran posisi
keuangan dan kinerja operasi perusahaan. sehingga konsekuensinya, jenis perubahan
ini harus di pertimbangkan sesuai dengan yang berbeda. Selanjutnya, akuntansi
bagi efek perubahan tingkat harga umum disebut sebagai model biaya
historis-daya beli konstan. akuntansi bagi perubahan harga spesifik disebut
sebagai model nilai ( biaya ) berjalan.
a. Penyesuaian tingkat harga umum
Model biaya historis-dolar konstan mempertimbangkan
perubahan harga ini dengan mengukur laba sedemikian rupa sehingga pendapatan
tersebut mencerminkan jumlah maksimum sumber daya yang dapat didistribusikan ke
berbagai pihak yang berhak selama periode tertentu, dan pada saat yang sama
mempertahankan kemampuan perusahaan untuk memperoleh jumlah barang dan jasa
yang secara umum sama, pada akhir periode, dengan jumlah barang dan jasa yang
dapat diperolehnya pada awal periode.
b. Penyesuaian biaya berjalan
Model biaya berjalan memandang laba
sebagai jumlah sumber daya yang dapat didistribusikan selama periode tertentu,
dengan mengbaikan pertimbangan pajak, dan pada saat yang sama mempertahankan
kapasitas produkstif atau modal fisik peusahaan. salah satu cara untuk
melakukan hal ini adalah dengan menyesuaiakan posisi aktiva bersih awal
perusahaan dengan menggunakan indeks-indeks harga spesifik yang sesuai (direct
pricing ) untuk mencerminkan perubahan-perubahan biaya berjalan yang ekuivalen
dari sebuah item selama periode yang dimaksud. jadi, sementara tujuan dari
penyesuaian tingkat harga umum adalah untuk mempertahankan daya beli umum dari
modal uang awal perusahaan, serta berupaya untuk mempertahankan modal fisik
atau kapasitas produktif perusahaan.
Sehingga dengan adanya perubahan
harga dalam akuntansi maka akan terjadi inflasi yang merupakan kenaikan tingkat
harga rata-rata yang bersifat sementara atau berlangsung terus-menerus. Ketika
kenaikan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadi hampir pada
seluruh barang dan jasa maka gejala ini disebut inflasi.
2.4 Penyebab Inflasi
Penyebab terjadinya inflasi secara umum bisa dibedakan
menjadi dua, yaitu:
1. Demand-pull inflation
Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa
menyebabkan bertambahnya permintaan faktor-faktor produksi. Meningkatnya
permintaan terhadap produksi menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi,
inflasi terjadi karena kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian
yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi yang ditimbulkan oleh
permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga
dikenal dengan istilah demand pull inflation.
2. Cost-push inflation
Inflasi ini terjadi akibat
meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk
(output) yang dihasilkan ikut naik.
2.5 Dampak Inflasi
Inflasi mempunyai dampak terhadap individu maupun bagi
kegiatan perekonomian secara luas. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat
negatif atau pun positif, tergantung pada tingkat keparahannya.
1. Dampak positif
Pengaruh positif inflasi terjadi apabila tingkat
inflasi masih berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku.
Misalnya, pada saat itu tingkat bunga kredit adalah 15% per tahun dan tingkat
inflasi 5%. Bagi negara maju, inflasi seperti ini akan mendorong kegiatan
ekonomi dan pembangunan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi, karena para
pengusaha/ wirausahawan di negara maju dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk
berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang dan jasa.
2. Dampak Negatif
Inflasi yang terlalu tinggi membawa dampak yang tidak
sedikit terhadap perekonomian, terutama tingkat kemakmuran masyarakat. Dampak inflasi
tersebut, antara lain:
o Dampak Inflasi terhadap Pemerataan Pendapatan
o Dampak Inflasi terhadap Output (Hasil Produksi)
o Mendorong Penanaman Modal Spekulatif
o Menyebabkan Tingkat Bunga Meningkat dan Akan
Mengurangi Investasi
o Menimbulkan Ketidakpastian Keadaan Ekonomi di Masa
Depan
o Menimbulkan Masalah Neraca Pembayaran
2.6 Cara Mengatasi Inflasi
1. Kebijakan moneter
Menurut teori moneter klasik, inflasi terjadi karena
penambahan jumlah uang beredar. Dengan demikian, secara teoretis relatif mudah
untuk mengatasi inflasi, yaitu dengan mengendalikan jumlah uang beredar itu
sendiri. Kebijakan moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia
untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar
terlalu berlebihan sehingga inflasi meningkat tajam, Bank Indonesia akan segera
menerapkan berbagai kebijakan moneter untuk mengurangi peredaran uang.
2. Kebijakan fiskal
Bagaimana kebijakan fiskal dapat mengendalikan
inflasi? Seperti Anda ketahui, kebijakan fiskal adalah kebijakan yang berkaitan
dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal dilakukan
pemerintah untuk mengurangi inflasi adalah mengurangi pengeluaran pemerintah,
menaikkan tarif pajak dan mengadakan pinjaman pemerintah.
3. Kebijakan Non-Moneter dan Non-Fiskal
Selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal,
pemerintah melakukan kebijakan nonmoneter/ nonfiskal dengan tiga cara, yaitu
menaikkan hasil produksi, menstabilkan upah (gaji), dan pengamanan harga, serta
distribusi barang.
2.7 Sudut Pandang Internasional
Terhadap Akuntansi Inflasi
·
AMERIKA SERIKAT Pada
tahun 1979, FSAB mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (statement
of financial accounting standards-SFAS) No. 33. Berjudul “pelaporan keuangan
dan perubahan harga”, pernyataan ini mengharuskan perusahaan-perusahaan AS yang
memiliki persediaan dan aktiva tetap.Banyak pengguna dan penyusun informasi
keuangan yang telah sesuai dengan SFAS No.33 mengemukakan bahwa :
o Pengungkapan ganda yang diwajibkan oleh FASB
membingungkan.
o Biaya untuk penyusunan pengungkapan ganda ini terlalu
besar.
o Pengungkapan daya beli konstan biaya historis tidak
terlalu bermanfaat bila dibandingkan
data biaya kini.
Oleh karena itu, FASB memutuskan untuk menyarankan,
dan tidak mewajibkan, perusahaan pelaporan di AS untuk mengungkapkan baik
informasi daya beli tetap biaya historis maupun daya beli tetap biaya kini.
Pedoman yang diterbitkan oleh FASB (SFAS 89) bertujuan untuk membantu
perusahaan yang melaporkan pengaruh perubahan harga terhadap laporan keuangan,
disamping sebagai cikal bakal standar akuntansi inflasi dimasa mendatang.
·
INGGRIS
Komite Standar Akuntansi Inggris (Accounting Standard
Commitee-ASC) menerbitkan Pernyataan Standard Praktik Akuntansi 16 (Statement
Of Standard Accounting Practice-SSAP 16).
Perbedaan SSAP 16 dengan SFAS 33 yaitu :
o Apabila standar AS mengharuskan akuntansi dolar
konstan dan biaya kini, SSAP 16 mengadopsi hanya metode biaya kini untuk
pelaporan eksternal.
o Apabila penyesuaian inflasi AS berpusat pad laporan
laba rugi, laporan biaya kini di Inggris mewajibkan baik laporan laba rugi dan
neraca biaya kini, beserta pencatatan penjelasan.
Standar di Inggris memperbolehkan tiga pilihan
pelaporan :
o Menyajikan akun-akun biaya kini sebagai laporan
keuangan dasar dengan akun-akun pelengkap biaya historis.
o Menyajikan akun-akun biaya historis sebagai laporan
keuangan dasar dengan akun-akun pelengkap biaya kini.
o Menyediakan akun-akun biaya kini sebagai satu-satunya
akun yang dilengkapi dengan informasi biaya historis yang memadai.
·
BRASIL
Inflasi sering dianggap sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari dunia bisnis di Amerika Latin, Eropa Timur
dan Asia Tenggara. Mengingat pengalamannya dengan inflasi dimasa lalu,
pendekatan yang dilakukan oleh brasil terhadap akuntansi inflasi sangat informatif.
Akuntansi inflasi yang
direkomendasikan di Brasil hari ini mencerminkan 2 kelompok pilihan pelaporan,
Undang-Undang perusahaan Brasil dan Komisi Sekuritas dan Bursa Brasil.
Penyesuaian inflasi yang sesuai dengan undang-undang perusahaan menyajikan
ulang akun-akun aktiva permanen dan ekuitas pemegang saham dengan menggunakan
indeks harga yang diakui oleh Pemerintah Federal untuk mengukur devaluasi mata
uang lokal. Aktiva permanen meliputi aktiva tetap, gedung, investasi, beban
tangguhan dan depresiasi terkait, serta akun-akun amortisasi atau deplesi (
termasuk setiap provisi kerugiaan yang terkait ). Akun-akun ekuitas pemegang
saham terdiri dari modal, cadangan pendapatan, cadangan revaluasi, laba
ditahan, dan akun cadangan modal yang digunakan untuk mencatat penyesuaian
tingkat harga terhadap modal. Akun yang disebut terakhir berasal dari revaluasi
aset tetap kedalam biaya pengganti kininya, setelah dikurangi provisi
penyusutan teknis dan fisik.
Penyesuaian inflasi terhadap aset
permanen dan ekuitas pemegang saham diterima bersih, dan kelebihannya
diungkapkan secara terpisah dalam laba kini sebagai laba atau rugi koreksi
moneter. Penyesuaian tingkat harga terhadap ekuitas pemegang saham (BRL275)
merupakan jumlah yang mesti ditumbuhkan lewat investasi pemegang saham diawal
tahun, guna mengatasi inflasi. Penyesuaian aset permanen yang lebih sedikit
dari penyesuaian ekuitas menimbulkan rugi daya beli, yang tercermin dalam aset
moneter bersih yang diungkapkan oleh perusahaan yaitu modal kerja.
Sumber :


